Organisasi‎ > ‎

Sejarah

HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan, yaitu terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan ajaran Islam sehingga tidak tercermin dalam kehidupan nyata.

Pada saat HMI berdiri, sudah ada organisasi kemahasiswaan, yaitu Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), namun PMY didominasi oleh partai sosialis yang berpaham komunis. Akibat didominasi oleh partai sosialis maka PMY tidak independen untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa, maka banyak mahasiswa yang tidak sepakat dan tidak bisa membiarkan mahasiswa terlbat dalam polarisasi politik. Sebagai realisasi dari keinginan tersebut maka di Yogyakarta pada Rabu Pon, 14 Rabiulawal 1366 H atau bertepatan dengan 5 Februari 1947 M pukul 16.00 WIB, lahir sebuah organisasi mahasiswa yang kelak menjadi wadah perkaderan bagi calon-calon pemimpin bangsa.

Di tengah pergolakan nasional mempertahankan kemerdekan dan polarisasi kaum terpelajar ke dalam pahamsosialisme, HMI muncul sebagai organisasi mahasiswa pertama yang memakai label Islam. HMI adalah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam yang ide pertamanya dikemukakan oleh Lafran Pane. Bertempat di salah satu ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam/STI (sekarang UII), Jl.Setyodiningratan 30 (Sekarang P. Senopati 30), Lafran Pane, sebagai penggagas pertama HMI memanfaatkan jam kuliah tafsir Alqur’an yang diasuh oleh Prof. Husein Yahya untukmendeklarasikan pembentukan HMI. Dengan berdiri tegak di hadapan kelas yangdihadiri oleh lebih kurang 20 mahasiswa, ia membacakan prakata sebagai berikut:

“Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena seluruh persiapan maupun perlengkapan yang diperlukan sudah siap…”.

Acara deklarasi tersebut selesai seiring dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Sejak itu HMI secara resmi berdiri dengan beberapa tokoh pendiri antara lain: LafranPane, Kartono, Dahlan Husein, Anton Timur Djaelani, Yusdi Ghozali dan lain-lain.

Berbicara mengenai berdirinya HMI, maka kita tidak akan lepas dari sosok yangpaling berperan yaitu Lafran Pane. Lafran Pane dilahirkan di Tapanuli Selatan pada tahun1925. Beliau adalah satu keluarga dengan Sanusi Pane dan Armyn Pane (penyairangkatan Pujangga Baru). Masa mudanya dipenuhi dengan petualangan dan pergulatanpemikiran yang amat keras, sehingga Lafran Pane muda dikenal dengan tingkah lakunyayang aneh dan ide-idenya sangat cerdas namun seringkali tidak sistematis. Pendidika agamanya diawali di lingkungan Islam tradisionalis Summatera. Metode pembelajaranagama dengan pengenalan sifat dua puluh (konsep ini sama dengan modelpembelajaran agama yang diterapkan oleh NU di Jawa) dikecap Lafran Pane waktu kecil.Setelah menginjak dewas, Lafran Pane kemudian melanjutkan pendidikan formalnya disekolah-sekolah modern milik Muhammadiyah (Sitompul 1976).

Semenjak berdirinya, HMI merupakan organisasi independen yang berbasismahasiswa dengan mengutamakan kebebasan berpikir dan bertindak sesuai dengan hatinurani. Komitmen pada perjuangan Islam dalam bingkai Negara Kesatuan RepublikIndonesia merupakan idealisme yang selalu dipegang teguh oleh para kader HMI, Hal inisebagaimana tercantum dalam tujuan awal pembentukan HMI:

1.Mempertahankan Negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
2. Menegakkan dan mengembangkan Agama Islam
Comments